Apakah yang bisa membuat sepak bola sebegitu menarik?. Jika pertanyaan ini diajukan kepada Albert Camus, seorang filsuf, maka kita akan mendapat jawaban bahwa dari sepak bola ia belajar tentang moralitas dan tanggung jawab manusia. Tentu saja moralitas dan tanggung jawab dalam batas-batas tertentu.
Tidak hanya itu, sepak bola juga mengajarkan bagaimana sebuah konektivitas bisa dibangun. Lihat saja, saat Kamerun berhasil melumpuhkan Argentina pada babak penyisihan Piala Dunia 1990 dengan skor 1-0. Kemenangan ini menumbuhkan rasa kebanggan sebagai bangsa Afrika. Kamerun lalu tidak hanya dipersonifikasikan sebagai sesuatu yang tunggal tetapi jamak yaitu simbol kebesaran bangsa Afrika. Perasaan serupa juga timbul ketika Afrika Selatan dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia 2010. Mantan Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki bahkan menyebut momen ini sebagai kelahiran harga diri dan kejayaan Afrika. Sepak bola bergerak menjadi pengikat. Continue reading








